Ada pola perilaku yang terus berulang dalam adopsi teknologi oleh sektor publik Indonesia: ketidakmampuan membedakan antara alat pemantau dengan mesin peramal.
Pekan ini, program AI Talent Factory (AITF) Batch 2 yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merampungkan fase integrasi sistem di Yogyakarta. Sebanyak 98 mahasiswa dari universitas negeri ternama dikerahkan untuk membangun dasbor pemantauan isu berbasis multimodal AI. Menggunakan pustaka optimasi seperti Unsloth untuk mempercepat fine-tuning model Qwen, mereka berhasil memotong waktu latih dari 18 jam menjadi 8 jam untuk memproses jutaan token teks, gambar, dan audio sosial media. Secara teknis, ini adalah pencapaian rekayasa lokalitas terbatas yang layak diapresiasi.
Namun, drama sebenarnya dimulai ketika para perancang kebijakan melihat dasbor tersebut. Alih-alih menanyakan akurasi klasifikasi atau keandalan infrastruktur data, permintaan yang muncul dari meja birokrat adalah fitur ramalan: “Dapatkah sistem ini memprediksi apa yang akan viral besok pagi?”
Algoritma di Bawah Tekanan Birokrasi
Dalam terminologi arsitektur sistem, keinginan untuk meramal tren sosial dengan mencerna data masa lalu adalah bentuk overprovisioning ekspektasi. Para perumus kebijakan menginginkan mesin yang mampu menyelesaikan masalah sebelum masalah itu mewujud di dunia fisik. Harapannya adalah dasbor dengan indikator merah-kuning-hijau yang berkedip memberi tahu isu apa yang harus diredam sebelum meluap ke ruang publik.
Ini adalah teater kesiapan tingkat lanjut. Ketika realitas sosial dinilai terlalu liar untuk dikelola dengan kebijakan nyata, birokrasi beralih ke representasi digitalnya. Kita tidak sedang memperbaiki akar masalah ketiadaan infrastruktur fisik atau ketimpangan struktural; kita sedang membangun dasbor yang lebih indah untuk melaporkan kegagalan tersebut dengan gaya prediktif.
Teknologi seperti Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang disematkan dalam dasbor ini dirancang untuk mencocokkan laporan publik dengan korpus regulasi yang berlaku secara instan. Tetapi ketika dipaksa memproyeksikan dinamika kognitif jutaan pengguna internet Indonesia yang didorong oleh algoritma rekomendasi platform global, model bahasa besar (LLM) hanya akan menghasilkan halusinasi yang diamini sebagai analisis intelijen strategis.
Unit Ekonomi dari Dasbor Kosmetik
Biaya inferensi dari sistem pemantau berskala nasional yang berjalan 24/7 tidaklah murah. Memproses gigabyte konten multimedia harian membutuhkan klaster GPU yang menuntut alokasi anggaran operasional yang konstan. Di sisi lain, utilitas dari keputusan yang diambil berdasarkan dasbor ini sering kali bernilai mendekati nol. Kebijakan publik yang dihasilkan tetaplah lambat, tertahan oleh rantai komando birokrasi tradisional yang memiliki latensi respons mingguan.
Maka, dasbor prediktif ini berakhir sebagai artefak dekoratif dalam presentasi kementerian. Dasbor ini memberi kesan bahwa negara sedang memegang kendali atas ruang digital dengan persenjataan paling canggih, padahal yang terjadi hanyalah penyerapan anggaran untuk komputasi kosmetik.
Mahasiswa-mahasiswa terbaik dilatih untuk mengoptimalkan hyperparameter model, namun pada akhirnya keahlian mereka habis digunakan untuk memuaskan obsesi penguasa akan ramalan cuaca politik digital.
Paradoks Pencegahan di Ujung Kabel
Sistem peramal sosial selalu menemui batasannya pada sifat manusia itu sendiri. Ketika sebuah tren diprediksi akan terjadi dan tindakan preventif dilakukan, prediksi tersebut secara otomatis batal demi hukum karena intervensi yang mendahuluinya. Ini adalah lingkaran setan analitik: jika dasbor benar, kita melakukan intervensi; jika intervensi berhasil, prediksi dasbor terlihat salah karena peristiwa tersebut tidak pernah terjadi.
Pada akhirnya, proyek analitik publik ini terjebak dalam delusi kontrol. Negara menginginkan kendali atas masa depan tanpa harus membenahi infrastruktur masa kini.
Log ditutup. Di ruang server kementerian yang berisik, dasbor prediktif terus menghitung probabilitas keributan esok hari, sementara kabel serat optik di luar gedung masih sering terputus oleh galian saluran air yang tidak pernah dikoordinasikan.