Ada satu variabel yang selalu datang terlambat di setiap proyek penutupan layanan: klien yang tidak bisa diperbarui. Mematikan sebuah layanan adalah satu keputusan konfigurasi. Memindahkan penggunanya adalah pekerjaan lapangan yang menuntut anggaran, waktu, dan penjelasan yang bisa diterima orang yang tinggal empat jam perjalanan dari menara terdekat.
Pada 27 September 2026, Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia, Marwan O. Baasir, menyampaikan bahwa asosiasinya tengah mengkaji penghentian jaringan 2G bersama pemerintah. Dalam wawancara di Bandung yang dilaporkan Antara dan Kompas dua hari berselang, ia menyebut pembahasan itu masih di tahap awal, dan tujuannya cukup jelas: pita 900 MHz yang saat ini disibukkan kanal-kanal GSM hendak dipindahkan ke layanan yang lebih sesuai dengan beban trafik hari ini.
Angka yang ia sebut menjelaskan mengapa kajian ini tidak sesederhana namanya. Dari basis registrasi kartu SIM berbasis biometrik yang mencapai 297 juta hingga Agustus 2026, proporsi pengguna yang masih bergantung pada 2G diperkirakan 8 sampai 10 persen, atau sekitar 29 juta orang. Untuk wilayah Indonesia Timur, istilah yang dipakai ATSI adalah menantang, dengan satu alasan yang jarang muncul di dokumen perencanaan: jumlah ponsel fitur yang masih banyak di sana.
Dua puluh sembilan juta bukan angka yang bisa ditutup dengan surat edaran. Itu jumlah klien yang tidak memiliki jalur upgrade.
Deprecation Tanpa Rilis Baru di Sisi Klien
Dalam siklus hidup perangkat lunak, menandai sebuah layanan sebagai kedaluwarsa selalu menyertakan asumsi yang jarang ditulis: klien akan memperbarui dirinya sendiri. Deprecation window adalah tenggat bagi pihak yang mampu memperbarui, bukan bagi pihak yang perangkatnya tidak memiliki mekanisme pembaruan sama sekali. Ponsel fitur yang dibuat sebelum era LTE tidak menerima firmware apa pun sejak meninggalkan pabrik. Tidak ada backport, tidak ada kanal distribusi, tidak ada mekanisme paksa dari jarak jauh.
Basis pengguna seperti itu adalah state yang tidak bisa disinkronkan, dan karenanya tidak bisa ditangani dengan cara yang sama seperti pelanggan yang masih bisa dipaksa memperbarui aplikasi. Dalam istilah infrastruktur, ini bukan migrasi versi. Ini penggantian hardware yang harus disebar ke jutaan titik, lengkap dengan biaya pembelian, distribusi, kehilangan sementara, dan waktu yang dibutuhkan manusia untuk belajar memakai perangkat baru.
Yang layak diperhatikan: seluruh biaya itu tidak berada di sisi yang memutuskan tanggal pemadaman.
Inventaris Pelanggan Bukan Inventaris Perangkat
Angka 297 juta registrasi biometrik adalah basis data pelanggan paling rapi yang pernah dimiliki sektor telekomunikasi Indonesia. Satu identitas, satu NIK, satu sampel wajah, satu nomor. Sayangnya yang tercatat di sana adalah manusia, bukan mesin. Tidak ada kolom yang menuliskan tipe ponsel, tidak ada registri IMEI yang memetakan kemampuan radio, dan tidak ada daftar warung mana yang mesin Electronic Data Capture-nya masih berjalan di atas GPRS.
Operator di pasar lain menuntaskan penutupan 2G dengan pendekatan yang mirip audit aset: daftar perangkat disusun lebih dulu, kalender pemadaman disusun belakangan, dan tiap wilayah mendapat tenggat yang bisa ditelusuri. Pendekatan itu tidak populer, tetapi punya satu keunggulan yang tidak dimiliki rilis pers: ia bisa diaudit.
Dalam arsitektur sistem, menjalankan migrasi tanpa inventaris klien sama dengan melakukan capacity planning tanpa telemetri. Kalau daftar asetnya belum ada, kalender pemadaman memang belum bisa ada, dan pengumuman tanggal cenderung berhenti sebagai pengumuman harapan.
Realokasi Pita sebagai Perpindahan Beban
Pita 900 MHz adalah aset paling strategis dalam portofolio operator seluler. Frekuensi rendah, jangkauan jauh, biaya menara per kilometer persegi paling murah di antara semua pilihan. Setiap kanal GSM hanya menempati 200 kHz, sementara blok LTE modern bekerja di satuan yang lebih lebar, sehingga penggabungan kanal-kanal lama menjadi kapasitas baru secara teknis sangat menguntungkan. Argumen ini benar sepenuhnya, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan di dalamnya.
Yang tidak masuk hitungan di dokumen yang sama adalah biaya penggantian perangkat pelanggan. Dalam analisis total cost of ownership, angka itu tidak pernah hilang; ia berpindah tempat. Dari laporan laba rugi perusahaan, ia berpindah ke dompet rumah tangga yang tidak memiliki pos anggaran bernama hardware refresh. Bagi sebagian rumah tangga di ekor distribusi, nilai satu ponsel 4G setara dengan beberapa minggu belanja harian.
Ekor Distribusi yang Tidak Pernah Selesai
Rata-rata nasional adalah metrik paling menenangkan dan paling tidak berguna untuk keputusan pemadaman. Cakupan 4G bisa menembus angka tinggi di tingkat nasional, sementara distribusinya tetap menyisakan ekor yang tidak pernah bertemu jadwal. Di Indonesia Timur, ekor itu berisi ponsel fitur, pasokan listrik yang tidak selalu ada, dan jarak ke pusat layanan yang lebih tepat diukur dalam jam perjalanan daripada kilometer.
Dalam operasi jaringan, ini masalah tail latency. Median terus membaik, sementara p99 tidak pernah selesai. Keputusan yang diambil dari angka rata-rata selalu terdengar efisien di ruang rapat, dan selalu bertemu persoalannya di bagian distribusi yang tidak pernah masuk ke slide mana pun.
Di lokalitas terbatas, kualitas infrastruktur tidak diukur dari titik yang paling cepat, melainkan dari titik paling lambat yang tetap harus dilayani. Batas itu bukan ambisi teknis, melainkan garis yang memisahkan layanan publik dari proyek efisiensi.
Insentif sebagai Patch untuk Masa Depan
Usulan pendamping yang disebut ATSI berbentuk dua hal: pengaturan peredaran perangkat yang hanya mendukung 2G setelah kebijakan penghentian diumumkan, serta harapan agar perangkat 4G LTE dan 5G semakin tersedia dengan harga terjangkau. Keduanya masuk akal, dan keduanya punya sifat yang sama: berlaku untuk perangkat yang belum ada.
Dalam praktik rekayasa, kewajiban yang hanya menyentuh unit baru tidak pernah memperbaiki unit yang sudah terpasang. Larangan peredaran adalah patch yang dikirim ke masa depan, sementara basis klien yang bermasalah berada di masa lalu perangkat. Selama puluhan juta perangkat itu masih hidup, mereka akan tetap meminta layanan yang secara resmi sudah dijadwalkan berakhir, dan jaringan yang tinggal separuh kapasitas tetap harus melayani mereka sampai titik terakhir.
Di titik inilah insentif berhenti menjadi instrumen fiskal dan berubah menjadi parameter migrasi. Berapa nilai bantuan per perangkat, siapa yang menanggungnya, dan apakah biaya itu dibayar lebih murah sebelum pemadaman atau lebih mahal sesudahnya. Pertanyaan terakhir biasanya dijawab bukan oleh kajian, melainkan oleh pengaduan yang datang setelah jaringan mati.
Jadwal yang Selalu Lebih Panjang dari Pengumuman
Penutupan 2G yang sudah selesai di tempat lain memberi satu pola yang cukup konsisten: jarak antara pengumuman resmi dan pemadaman biasanya berkisar tiga sampai lima tahun. Pola itu terbentuk di pasar yang perangkatnya lebih seragam, inventarisnya lebih rapi, dan sebaran penduduknya tidak menyisakan ekor geografis sepanjang Indonesia Timur.
Kalau pengumuman resmi keluar tahun depan dan rentang tiga tahun dipakai sebagai asumsi paling optimistis, pemadaman jatuh di 2029 atau 2030. Artinya pengguna ponsel fitur di Maluku atau Papua memiliki sisa masa pakai perangkat sekitar tiga sampai empat tahun sejak sekarang, dan tidak satu pun dari rentang itu muncul di dalam frasa penghentian secara bertahap mulai 2026. Frasa semacam itu selalu lebih tua daripada kenyataan yang dijelaskannya.
Dalam perencanaan infrastruktur, tanggal mulai hampir tidak pernah berguna sebagai unit akuntabilitas. Yang bisa diaudit adalah tanggal selesai, dan tanggal itu selalu dimiliki oleh pihak yang paling lambat, bukan pihak yang paling siap.
Metrik yang Tidak Akan Muncul di Dasbor
Tidak ada dasbor operator yang menampilkan jumlah pelanggan yang berhenti menelepon. Yang tercatat adalah jumlah kartu aktif, volume trafik, dan pendapatan per pengguna. Ketika klien yang tidak bisa diperbarui akhirnya kehilangan jaringan, angka-angka itu bergerak dengan cara yang secara statistik terlihat seperti konsolidasi, bukan kehilangan. Tidak ada alarm yang berbunyi untuk proses yang dimatikan sesuai jadwal.
Kajian ini masih di tahap awal. Angka 29 juta masih estimasi yang diturunkan dari basis registrasi, dan tanggal pemadaman belum ada sama sekali. Semua itu wajar untuk sebuah pembahasan yang baru dibuka. Yang tidak wajar adalah mengharapkan ada pihak yang mendaftar sendiri sebagai klien yang tidak akan bisa dipindahkan.
Log ditutup. Spektrum bisa dimatikan tepat waktu sesuai jadwal, tetapi klien terakhir selalu tiba lebih lambat daripada pemadaman. Pemadaman selalu tepat waktu; migrasi tidak pernah.