Skip to content
Poeta
Go back

Sensus yang Terlambat: Agent Sprawl dan Inventori yang Lahir dalam Keadaan Basi

Ada ironi yang terlalu rapi untuk dilewatkan: seluruh industri menghabiskan dua tahun membangun agen AI yang bisa bekerja sendiri, lalu menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu berapa banyak agen yang sudah dibuat. Pasar global agen AI diperkirakan menembus 8,5 miliar dolar AS pada 2026 — Deloitte menyebut operator telekomunikasi perlu mempercepat adopsi agar tidak tertinggal — sementara Gartner, pada Mei lalu, memperingatkan bahwa menerapkan tata kelola yang seragam untuk semua agen justru akan menggagalkan proyek agentic itu sendiri. Dua sinyal yang hidup di frekuensi berbeda: satu tentang berapa banyak yang bisa diproduksi, satu lagi tentang betapa tidak siapnya infrastruktur yang harus mencatat hasil produksinya. Dalam arsitektur sistem, kesenjangan semacam ini punya nama lama: provisioning yang berlari meninggalkan asset management yang berjalan kaki.

CMDB sebagai Kitab yang Tidak Pernah Dibaca

Dalam istilah infrastruktur, setiap organisasi yang sudah lama berkecimpung di komputasi memiliki satu artefak yang dirawat dengan rasa bersalah: CMDB — configuration management database, tempat semua aset seharusnya tercatat. Server, alamat IP, license, pemilik, tanggal end-of-life. Hampir semua CMDB di dunia lahir dalam keadaan basi, karena isinya hanya akurat pada hari pertama diisi, lalu perlahan menyimpang seiring provisioning berjalan lebih cepat daripada pembaruan catatan. Para insinyur tua punya istilah untuk ini: CMDB adalah dokumen yang paling sering diaudit dan paling jarang dipercaya.

Yang terjadi pada agen AI adalah episode yang sama, dengan satu perbedaan radikal. Server fisik butuh pengadaan, rak, kabel, dan waktu berminggu-minggu sebelum online. VM butuh template dan persetujuan. Container lahir dari pipeline yang tercatat. Tapi agen AI lahir dari satu percakapan dengan chatbot yang punya akses ke API, satu prompt yang kebetulan menyertakan kredensial, satu sesi vibe coding yang berakhir dengan skrip berjalan di suatu tempat yang tidak diingat lagi. Siklus provisioning-nya bukan minggu, bukan jam — melainkan detik, dan tidak menyisakan jejak yang cukup untuk dicatat oleh siapa pun. Populasi sintetis tumbuh dengan laju yang membuat sensus mustahil dilakukan secara manual, sementara tidak ada yang membangun sensus otomatisnya.

Sprawl sebagai Kegagalan Resource Allocation

SAP, dalam analisis yang terbit Agustus lalu, menyebut fenomena ini agent sprawl dan menaikkannya ke level dewan direksi — bukan karena teknis, tetapi karena ekonomi. Setiap agen yang berjalan menarik kuota API, menyimpan konteks, membuka koneksi, dan membebani pipeline yang sama. Dalam istilah resource allocation, ini kegagalan yang familier: beban kerja yang tumbuh secara liar tanpa capacity planning, masing-masing mengaku penting, tidak ada yang mau dimatikan. Dulu fenomena ini disebut shadow IT — departemen yang memasang server sendiri di bawah meja tanpa sepengetahuan divisi teknologi informasi. Kini shadow-nya bukan perangkat keras, melainkan tenaga kerja: entitas yang bekerja, membalas surel, menelepon vendor, dan menandatangani perjanjian, tanpa pernah masuk ke dalam headcount resmi siapa pun.

Angka dari Gartner memberi dimensi yang lebih janggal: lebih dari 40 persen proyek agentic AI diperkirakan batal sebelum 2027, dan penyebabnya bukan kemampuan model, melainkan masalah manajemen. Artinya kegagalannya bukan di lapisan inferensi — inference-nya bekerja baik-baik saja — melainkan di lapisan orkestrasi manusia: siapa pemiliknya, siapa yang boleh menghentikannya, bagaimana konflik antar-agen diselesaikan, dan ke mana agen itu dicatat saat tidak lagi dibutuhkan. Ketika shutdown sebuah agen tidak punya prosedur karena kelahirannya saja tidak pernah tercatat, yang tersisa hanyalah populasi yang terus berjalan dengan biaya background yang tidak pernah dianggarkan. Sprawl bukan kegagalan teknologi. Sprawl adalah kegagalan akuntansi yang memakai seragam teknologi.

API Key sebagai Akta Kelahiran

Dalam arsitektur sistem, identitas sebuah proses biasanya ditentukan oleh siapa yang memegang kredensialnya. Untuk agen AI, akta kelahiran yang paling banyak dipakai adalah API key: sebaris karakter yang memungkinkan entitas tak bernama menarik kuota, mengirim permintaan, dan atas nama organisasi. Laporan insiden keamanan agen sepanjang 2026 mulai menunjukkan pola yang sama — kredensial yang bocor dari repositori, agen yang memakai token milik karyawan yang sudah keluar, dan key yang di-embed langsung ke dalam kode tanpa pernah melewati vault. Dalam satu insiden yang dilaporkan pertengahan tahun, jutaan catatan mengalir keluar lewat sesi agen yang tidak pernah diaudit, karena sesi itu tidak pernah diketahui ada.

Persoalannya bukan sekadar keamanan, melainkan kosmologi: siapa yang dianggap “ada” dalam sebuah organisasi? Manusia didaftarkan saat masuk, diberi nomor induk, dan dihapus saat keluar. Agen AI tidak melewati proses itu. Mereka eksis lewat default permission — akses yang diberikan karena tidak ada yang secara eksplisit melarang — dan mereka berhenti eksis bukan saat dinonaktifkan, melainkan saat kuotanya habis atau akunnya kedaluwarsa. Survei Cloud Security Alliance yang terbit tahun ini mencatat insiden yang melibatkan agen AI kini dianggap hal biasa di perusahaan besar; bukan karena peretas berubah lebih canggih, tetapi karena permukaan yang harus diawasi tumbuh tanpa pernah dipetakan. Tata kelola yang baik mensyaratkan objek yang jelas. Tanpa inventori, governance hanyalah prosedur yang berdebat dengan hantu.

Sensus Nasional untuk Populasi yang Tidak Mau Dihitung

Dari lokalitas terbatas, dinamika ini terasa seperti ulangan yang sudah beberapa kali diputar. Ketika Komdigi kembali membahas kesiapan kecerdasan buatan Indonesia pada awal September, kerangka diskusinya masih berkisar pada kapasitas, talenta, dan peta jalan — pertanyaan tentang berapa banyak sistem otonom yang beroperasi di bawah yurisdiksi, dan siapa yang bertanggung jawab saat dua agen dari dua kementerian berbeda saling mengirim permintaan tanpa manusia di tengahnya, nyaris tidak pernah diangkat ke permukaan. Kompetisi agen AI bertema “bangun agen sungguhan, pecahkan masalah sungguhan” digelar di berbagai kota, dan summit kecerdasan buatan generatif akan memenuhi Jakarta akhir bulan ini. Semua kegiatan itu sah dan berguna. Namun di balik antusiasme provisioning, pertanyaan yang paling membosankan tetap menggantung: setelah semua agen ini lahir, siapa yang menghitungnya?

Dalam istilah sistem, Indonesia sedang mengalami cold start yang sama dengan negara lain: membangun populasi sebelum membangun registri, menggenjot supply sebelum observability. Server yang tidak tercatat masih bisa ditemukan lewat port scan; agen yang tidak tercatat bisa beroperasi sepenuhnya di dalam kanal komunikasi yang sah, memakai kredensial yang sah, menghasilkan keputusan yang tidak pernah ditinjau manusia. Separation of concerns menuntut pemisahan antara yang membuat keputusan dan yang mencatat keputusan — tetapi ketika populasi pembuat keputusan tidak pernah dihitung, lapisan pencatatan kehilangan objeknya. Governance tanpa inventori bukanlah pengawasan; ia hanyalah harapan baik yang dikonfigurasi dengan verbose logging.

Mungkin ironi terbesarnya begini: seluruh diskursus tentang agen AI berfokus pada hal-hal yang sulit — keselarasan, otonomi, hak, moralitas — sementara kegagalan yang paling sering terjadi justru pada hal yang paling sederhana: tidak ada yang tahu persis berapa banyak agen yang sedang berjalan, atas nama siapa, dan dengan kuasa apa. Di ruang operasional yang terbatas, kegagalan semacam ini bukan abstraksi. Ia adalah tagihan API yang tidak bisa dijelaskan, audit log yang tidak punya entitas untuk dicocokkan, dan pertanyaan “siapa yang membuat ini?” yang dijawab dengan keheningan yang sopan. Setiap lapisan komputasi baru selalu mengajarkan pelajaran yang sama dengan biaya yang lebih mahal: provisioning tanpa pencatatan bukanlah kecepatan, melainkan utang yang baru jatuh tempo saat tidak ada yang ingat meminjamnya.

Log ditutup di sini. Sensus telah selesai, dan angkanya tidak cocok dengan jumlah yang selama ini dilaporkan. Populasi terus bertambah; lembaran sensus tetap basi, seperti biasa — hanya saja kali ini yang tidak terhitung bisa membalas surel.



Previous Post
Seribu Dua Ratus Agen dan Hirarki yang Tidak Diminta
Next Post
Mesin yang Tidak Pernah Tidur dan Akhir Pekan yang Tidak Pernah Tiba